Perbincangan Di Eskalator

Seperti biasa, dengan senyuman manis khasnya, di atas eskalator yang menuntun kita ke lantai atas, dia kemudian bertanya,

“Andai kau diberi kesempatan untuk me-reset hidupku sesuai kemauanmu, kau mau aku seperti apa?”

“Kau yang sekarang. Karena kau yang sekarang ada bukanlah tanpa alasan. Kau ditempa lewat banyak peristiwa, lika-liku hidup yang tak nampak dari keseharianmu tapi mungkin itulah cara Tuhan mengabulkan doa-doamu dan doa-doaku untuk bisa bersamamu sedari dulu. Misalnya, kau yang saat itu adalah seorang yang menyebalkan ditempa supaya kau menjadi seorang yang tidak menyebalkan lagi. Begitu pula aku ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik melalui peristiwa-peristiwa di masa lampau, supaya apa? Supaya aku masuk kualifikasi agar doa-doaku bisa dikabulkan. Ibaratnya, bagaimana bisa kau tahu kau itu ‘kaya raya’ jika kau tidak pernah tahu rasanya ‘miskin’? Karena kekayaan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Dengan memilikimu yang sekarang saja, itu semuanya sudah cukup. Tetaplah jadi pribadimu yang sekarang.” jawabku panjang lebar.

Senyum kecilnya kembali menghiasi wajahnya setelah sedari tadi begitu serius menyimak kata-kataku. Tak terasa, akhirnya kita pun sampai juga di lantai atas.

Advertisements

2017, Tahun Terbaikku

Sudah kuduga, angka 17 adalah angka favorit sekaligus keberuntunganku. Apa yang terjadi di tahun ini memang tidak pernah kusangka-sangka. Resolusiku pada tahun ini sebenarnya hanyalah mengusaikan hubungan tak sehat yang selama ini kujalani. Resolusi tahun ini juga sebenarnya adalah resolusi tahun sebelumnya yang ‘tertunda’. Dan ternyata hal itu mampu kurealisasikan berkat pertemuanku dengan seseorang yang selama bertahun-tahun ku untit sosial medianya, yang kini telah menjadi kekasihku. Semuanya terasa begitu tiba-tiba, berawal dari sebuah mimpi, dia kini menjadi salah satu motivasiku dalam menjalani hidup yang lebih baik kedepannya (semoga kita cepat menikah ya!). You are one of those dreams of mine that come true surprisingly.

Selain soal cinta-cintaan, di tahun 2017 ini juga, aku membentuk band (aku bermain bass) dengan orang-orang yang kuidolakan, The Shoptalks namanya, meski hanya menelurkan 3 demo lagu yang malah justru menjadi gerbang untuk bergabungnya aku dengan sebuah band yang keren, yang takkan kusebutkan namanya. Aku tulis satu dari tiga lagu demonya The Shoptalks yang berjudul “Bersamaku”. Lagu ini menceritakan tentang pertemuan pertama seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang dicintainya setelah 11 tahun tidak berjumpa (tentang kekasihku!).


Selain itu, iseng-iseng aku promosikan The Shoptalks ke one of my guitar gods, Fifi (ex Teengenerate) via DM Instagram. Dia bilang dia bakal coba dengar, aku pikir semuanya cuma basa basi saja layaknya respon artis-artis biasanya. Tapi ternyata diluar dugaan, dia promosikan The Shoptalks lewat akun Twitternya. HOLY SH*T!!!

So far, tahun 2017 memang tahun terbaikku. Tinggal menghitung hari, aku akan menguncapkan selamat tinggal padanya. What a surpringly amazing year! Dalam kondisiku yang sekarang, aku semakin semangat menghadapi tahun-tahun yang akan datang.

Apa Yang Kau Pikirkan?

Apa yang kau pikirkan ketika pertama kali berjumpa denganku?

Apa yang kau pikirkan ketika ku katakan semua tentang perasaanku?

Apa yang kau pikirkan ketika kau tahu siapa aku yang sebenarnya?

Apa yang kau pikirkan ketika ku peluk erat dirimu?

Apa yang kau pikirkan ketika ku kecup bibir merahmu?

Apa yang kau pikirkan ketika kau menutup matamu?

Apa yang kau pikirkan ketika kau menatap wajahku?

Apa yang kau pikirkan ketika ku bisikan kata cinta di kuping kananmu?

Apa yang kau pikirkan ketika ku berdiri membelakangimu?

Apa yang kau pikirkan ketika ku berbaring disebelahmu?

Apa yang kau pikirkan ketika ku elus rambut pendekmu?

Apa yang kau pikirkan ketika kau sendirian tak bersamaku?

Apa yang kau pikirkan ketika ku tak seperti yang kau harapkan saat itu?

Apa yang kau pikirkan ketika ku menerimamu apa adanya?

Apa yang kau pikirkan sekarang?

Surat Cinta Untukmu Di Masa Lalu

Hai, apa kabarmu? Kulihat dari jauh sini kau nampak baik-baik saja. Walau aku tak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi dengan hidupmu kala itu, yang mampu kulakukan hanyalah membayangkan semuanya dari tulisan-tulisan kecilmu. Kau tak pernah tahu rasa untukmu ini tak pernah berubah, selalu sama seperti sejak awal aku melihatmu. Kini kita beranjak dewasa, yang dulu ku rasa tak mungkin, kini menjadi mungkin, namun sayang, jarak sejauh 347 kilometer menciutkan nyaliku. Kalaupun aku memberanikan diri menyatakan semuanya, rasanya tak memungkinkan, maka dari itu, aku tulis surat ini untukmu di masa lalu…

Setiap tahun, aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung memperhatikan tulisan-tulisan kecilmu di dunia maya. Entah itu semua hanya celoteh-celoteh harianmu atau obrolan-obrolan bersama kekasihmu waktu itu. Ya, aku selalu tahu, apa yang terjadi pada kalian, hanya dari tulisanmu. Tanpa kau sadari, disaat kau merasa sedih atau kesepian, aku selalu ada untukmu meski kau tak pernah tahu itu. Disaat kau merasa orang lain tak menginginkanmu, ada aku dari jauh sini berharap memiliki hatimu lagi.

“Obsessed To Almost Everything”.

Adalah kalimat yang kau tulis yang sukses membuat pikiranku terombang-ambing. Bagaimana tidak? Aku bisa bayangkan sosokmu yang kini menjadi seorang petualang yang pikirannya penuh dengan rasa penasaran yang hebat. Aku takkan pernah lupa kalimat itu. Tanpa sadar aku mulai mengkhayal menjadi kekasihmu lagi sama seperti saat kita berumur 13 tahun dulu.

Ketika jarak belum memisahkan kita, ketika kita masih saling bertegur sapa, ketika aku mulai yakin untuk mampu memilikimu untuk sekali lagi,

“Aku akan melanjutkan studiku ke Semarang.” ucapmu kala itu.

Kalimat singkat yang membuyarkan semua fokusku. Jawabanmu membuatku diam seribu bahasa. Pikiranku tak karuan. Kupikir selama ini… Kesempatan itu… Selalu ada.

Waktu terus berputar, kita pun menjalani hidup kita masing-masing. Mungkin kau juga sudah lupa padaku. Tapi aku tak pernah melupakanmu, aku selalu menyimpanmu dalam hatiku. Sayangku, kau tak pernah tahu jika aku sudah membangun sebuah kamar tersendiri untukmu dalam hatiku. Bertahun-tahun kita sudah tak lagi bertegur sapa, akhirnya kuhabiskan waktuku untuk menjadi penikmat skenario hidupmu dari jauh sini. Memperhatikan wajah cantikmu di layar komputerku. Membaca satu-satu celotehanmu. Mencari tahu dimana kau lanjutkan studimu. Siapa kekasihmu. Ah, andai kau tahu betapa anehnya diriku ini, mungkin kau akan mengernyitkan dahi.

Nyaliku selalu hilang tiap kali ingin mencoba memulai percakapan lagi denganmu. Entah kenapa seperti alam semesta melarangku untuk menyambung tali yang putus itu denganmu. Seperti kemurnian hubungan kita harus terjaga dari suatu hal yang mungkin akan menyakiti diri kita. Mental kita harus lebih dulu ditempa melalu peristiwa-peristiwa yang menyedihkan agar pikiran kita lebih terbuka, agar kita bisa lebih menghargai rasa cinta ini dengan saling menerima kekurangan masing-masing. Karena begitu besar cinta ini seperti tak ada hal lain yang mampu menandinginya.

Mungkin suatu hari nanti kita akan bertemu kembali. Di kota ini dimana kau melewati masa kecilmu hingga beranjak dewasa. Aku pasti menghampirimu lagi. Menyatakan semuanya yang sudah tak terbendung lagi.

Sudah

Sejuput garam kau siram di atas luka keringnya. Seolah senyuman yang kau hempaskan akan menghapus kenangan manisnya di masa lalu. Meski kau sadar betul jika di halaman depan bukunya hanya tertulis namamu dengan tinta merah, bagaimana bisa kau bilang semuanya “sudah”? Sebegitu naifnya kah dirimu berharap semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ada di teater pikiranmu? 
Berhenti berpura-pura menjadi manusia ignoran. Karena kau tahu sesungguhnya hanya ada namamu dihatinya. Hanya kau, sang penebar harapan, yang bisa mengakhiri penderitaannya.

“Kau tak akan pernah bisa melupakanku karena akulah yang pertama bagimu.”

Jalang

Kebencianku terhadapmu sudah tak bisa dianalogikan dengan apapun. Meskipun sudah kumaafkan semua kesalahan-kesalahanmu tapi kebencian ini rasanya seperti takkan pernah padam. Kadang aku lelah sendiri karena aku hanya bisa menyalahkan. Mungkin memang aku sendiri saja yang bodoh.

Andaikan aku bisa kembali ke masa lalu, akan kuubah alur takdir pertemuan ibu dan ayahmu supaya kau tak pernah terlahir di dunia ini. Kau tak pernah pantas untuk hidup disini. Aku tak pernah mau mengutuk seseorang tapi engkaulah satu-satunya pengecualian. Membusuklah engkau wanita jalang. Bahkan membunuhmu sekali saja tak cukup untuk membalas semua yang telah kau perbuat selama ini.

Hari kematianmu adalah hari kebebasanku dari belenggu yang selama ini memeluk erat diriku.

Sang Pendamba Kesempurnaan 

Aku adalah seorang manusia dengan segala kepincangan dalam jiwa.

Imajinasi liar menuntunku menjadi seorang budak yang menderita.

Seorang yang mendamba dan menghamba kepada sesuatu yang tak pernah ada.

Apa daya karena imajinasiku terasa lebih indah dari realita.

Kesempurnaan itu selalu menari-nari dalam kepala.

Walau tak bisa dilihat oleh mata,

Ku bisa rasakan begitu istimewanya jika semua benar adanya.

Tak masalah jika aku tak bisa menjadi sempurna.

Asalkan semua yang ku miliki kembali ke sedia kala.

Karena aku tak ingin lagi menderita.

Karena aku tak mau lagi meneteskan air mata.

Aku muak menerima apa adanya.

Aku lelah melapangkan dada.

Akulah lahir dan hidup karena penderitaan.

Akulah sang pendamba kesempurnaan.