Perjalanan Tanpa Tujuan

Perjalanan keliling kota sudah menjadi makanan keseharianku. Bukti menghitamnya kulit tanganku karena terbakar sinar matahari itu bukan cerita bohongan. Meski begitu seringnya, tetap saja ku tak hafal dengan baik nama-nama jalannya. Setiap kali aku mengantarkan salah satu anggota keluargaku ke suatu tempat,  pertama yang kutanyakan tentu saja ‘mau kemana?’  dan mereka menjawab ‘ke jalan A’ misalnya, hanya dengan menyebut nama jalannya saja,  tentu takkan menyelesaikan kebingunganku ini.  Karena tak banyak daerah yang kuhafal walaupun jalan yang mereka bilang itu sebenarnya sering kulewati. Aku butuh beberapa petunjuk yang lebih spesifik agar aku tak sering bertanya yang kemungkinan bisa membuat mereka jengkel.

Memang, setiap perjalanan yang kutempuh kebanyakan merupakan perjalanan tanpa tujuan yang pasti, bisa dibilang hanya buang-buang waktu dan menghamburkan berliter-liter bensin yang bahkan dalam sekali perjalanan pergi-pulang saja bisa sampai menghabiskan setangki bensin. Bayangkan berapa kilometer perjalanan yang sudah aku tempuh di dalam kota saja? Entahlah tak pernah benar-benar kuperhatikan. Kutarik langsem motor sedikit lebih dalam sambil sesekali kutengok langit sambil bertanya dalam hati, “Sampai kapan aku harus hidup seperti ini?”.

Lelah,  tentu saja,  siapa yang tak lelah duduk berjam-jam di jok motor yang lebarnya tak lebih besar dari ukuran pantatmu? Puluhan kali mengitari tempat yang sama, keterpurukan yang tiada habisnya ini kadang jadi bahan keisengan hembusan angin besar dan rintik-rintik hujan yang nampak sengaja ingin memperburuk kondisiku. Walaupun berat,  kucoba untuk tidak berkeluh kesah kepada sahabat-sahabatku,  sahabat-sahabat? Baru kusadari kata jamak tadi tak sesungguhnya menggambarkan banyaknya sahabatku, andaikan aku punya sahabat saat ini pun, mungkin aku tidak akan luntang-lantung separah ini. Mungkin aku sedang duduk manis bersama mereka di sebuah mini market sambil meneguk minuman bersoda yang harganya murah, membahas soal konspirasi,  musik, politik dan visi kami di masa depan nanti dari pagi sampai malam. Alih-alih membahas semua itu,  pada kenyataannya yang aku lakukan hanyalah melakukan perjalanan tak berarti dari belahan timur ke barat kota.

Beberapa khayalan mulai merasuki otakku apalagi saat lampu lalu lintas di salah satu perempatan yang tak kuhafal namanya berubah menjadi merah, lebih santai kuberpikir disana karena tak terlalu menguras konsentrasiku hanya untuk ber-multi-tasking, mengendarai sambil berpikir, ya sambil sesekali merilirik ke arah lampu lalu lintas siapa tau sudah hijau. Khayalanku kadang merupakan bagian dari sesuatu yang tak pernah aku lakukan dikehidupan nyata. Entah mungkin karena aku kurang nyali, takut, tak memiliki rasa tanggung jawab, aku benar-benar tidak tahu. Aku selalu merasa kehidupanku sudah jauh tertinggal dari yang lain, ibaratnya disaat orang lain sudah menjadi pohon yang kuat menghasilkan buah-buah yang manis, aku hanyalah bibit yang tak pernah yakin apakah aku akan menjadi pohon atau mati ditengah prosesnya.

Kegalauan ini mendorongku untuk kembali ke masa lalu untuk mengoreksi apa yang salah di masa laluku. Tubuhku memang tak kemana-kemana, masih memegang stang motor menunggu detik lampu merah lalu lintas sampai nol tapi pikiranku sudah pergi jauh ke masa lalu, belum sempatku berkeliling dengan pikiranku, motor-motor dibelakangku sudah memberi klakson, tak kusadari aku sudah melewatkan beberapa detik lampu yang sudah menjadi hijau. Aku kadang berharap bahwa aku adalah John Titor atau Marty McFly atau Crono, obsesiku akan menembus perjalanan ruang dan waktu itu memang besar dan konyol. Anggapan bahwa semua hal yang bisa dilakukan orang lain mustahil bisa kulakukan sudah mendorongku hidup lebih jauh ke dunia khayalan ciptaanku sendiri, yang semakin menguatkankan sifat pesimisku tentang masa kini dan masa depan. Solusi yang kupikirkan hanyalah dengan ‘mengubah masa lalu’. Solusi yang tak benar-benar membantuku menyelesaikan kekacauan ini mungkin malah sedikit demi sedikit menggerogoti pikiranku yang sudah sepertigaperempatnya membusuk.

Pesismis, ya boleh dibilang seperti itulah aku, tak seorangpun percaya dengan apa yang kulakukan. Orang-orang terdekatku membuang-buang tenaga mereka hanya untuk mencarikanku solusi yang terbaik tapi mereka lupa satu poin pentingnya, mereka tak pernah percaya dengan apa yang aku lakukan. Tak mendapat kepercayaan tak serta merta menghentikanku untuk mencoba dan berusaha, berpikir positif dibantu lagu-lagu punk rock yang kudengar dengan volume maximal lewat earphone sampai-sampai knalpot motor besar yang baru saja melewatiku tak terdengar dikedua kupingku. Tak terasa sudah beberapa kali kuputari tempat ini, yang lagi-lagi tak kuhafal namanya. 3 jam telah berlalu dengan sia-sia, pantatku sudah tak mampu lagi menahan rasa pegal, pikiran sudah tertuju ke kasur di kamarku, langit sudah mulai murung nampak akan segera menangis. Kulajukan kuda besiku dengan kencangnya menuju rumah dibelahan timur kota, “Sampai kapan aku harus seperti ini?” tanyaku lagi dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s