Gundah Gulana

Image0043Kedua mataku menoleh ke langit-langit kamar yang sempit. Gundah gulana memelukku mesra tak seperti biasanya. Seakan mereka adalah kerinduan seorang kekasih yang lama terpendam. Menit demi menit berlalu sia-sia. Aku termenung terbaring di kasurku yang ukurannya tanggung. Kemudian masa lalu datang mengetuk pintu otakku.

“Maaf, aku sedang tidak ingin menerima tamu.” ujarku.

Aku yakin, mereka takkan menghiraukan ucapanku. Mereka akan terus mengetuk sampai kubukakan pintunya. Masalahnya, aku sudah muak bernostalgia cinta masa lalu dan impianku yang dulu pupus di tengah jalan. Namun, aku tak searogan itu. Aku akan tetap berusaha menjadi pendengar yang baik walaupun kisah-kisah mereka masih itu-itu saja. Entah kenapa hal itu tetap saja selalu menarik perhatianku (meskipun aku juga muak). Ironis.

Sayangnya untuk sekarang aku sungguh-sungguh tak ingin diganggu. Persetan jika mereka tetap memaksa. Lama-lama juga mereka capek sendiri lalu enyah dari pojokan otakku. Jam demi jam berlalu dengan sia-sia. Mereka pun akhirnya menyerah dan pergi begitu saja.

“Ha ha ha ha! Akhirnya aku menang!” Teriakku lantang.

Kupejamkan mata-mataku sambil kurubah posisi tidurku, menghadap kearah kanan tepat dimana wajahku disambut tembok dingin itu. Sedingin kegalauanku yang tak kunjung usai. Aku sadar semua itu takkan pernah usai jika aku tak merubah pola pikirku. Aku coba hilangkan kesadaranku untuk sementara, berharap aku dapat melanjutkan renungan ini di alam mimpiku. Atau, mungkin di hari esok? Di waktu yang sama? Di tempat yang sama? Siapa yang tahu?