Si Brengsek

Image0046Suara rintik hujan mulai membasahi atap rumahku. Seperti biasa, aku lihat ibuku sedang termenung di ruang tamu yang ukurannya dua kali lebih besar dari kamarku sambil sesekali mengintip ke arah jendela.

“Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan? Ah mungkin ia sedang memikirkan ‘si brengsek’ itu.” gerutuku dalam hati.

‘Si brengsek’ itu adalah satu per dua alasan kenapa aku bisa terlahir di dunia. Dia adalah ayahku. Sesosok ‘manusia’ yang  memang lebih pantas disebut ‘hantu’. Ketika aku masih bocah ingusan, aku menganggapnya sebagai panutanku. Kau tahu, bahkan aku akan selalu menjawab ‘merokok dan minum kopi sachetan seperti ayah.’ jika ada seseorang bertanya ‘mau jadi apa kamu jika sudah besar nanti?’. Setelah beranjak dewasa, aku mulai mempertanyakan eksistensi dan kontribusinya dalam hidupku. Jawabannya? Tidak ada. Sosoknya ada, tapi dia tak pernah ada dalam hidupku. Hatiku hancur setelah mengetahui ternyata dia lah sumber utama masalah dalam keluargaku.

Rintikan hujan kini berubah menjadi gemuruh literan air dari langit. Aku kembali ke kamarku berbaring di kasurku sambil mencoba mengingat masa kecilku yang tidak mengenakan. Dengan menyebutnya ‘Si brengsek’, mungkin mereka yang tak mengerti akan melabeliku sebagai anak durhaka. Ah persetan dengan apa yang mereka pikirkan. Segera ku tutup lubang kupingku dengan earphone yang dibeli seharga 120 ribu rupiah, musik mellow memaksaku menutup mataku dan pikiranku kembali ke masa lalu.

“Aku bukan George.”

“Bukan juga Marty McFly.”

“Apalagi Crono.”

“Alexander? Tidak.”

Tapi sekarang aku disini, berada di masa lalu menyaksikan detil-detil masa kecilku di rumah seseorang yang berukuran sedang yang nantinya penuh sesak oleh cacian. Kemudian terdengar suara ketukan pintu, nampak seorang ibu dengan seorang bocah kecil. Sepertinya aku mengenali bocah itu, rompi berwarna broken white bermotif garis dengan patch Flintstone di bagian dada kirinya dan sebuah pistol mainan. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan dengan pemilik rumah namun tak selang berapa lama si ibu pergi tanpa membawa bocah itu.

“Ibu tinggal dulu ya. Baik-baik, jangan nakal, ikuti apa kata bibi.” pesannya kepada si bocah.

Aku ingat sekarang, si bocah itu adalah aku. Pesan ibuku itu selalu terngiang-ngiang dalam benakku hingga kini. Aku merasa seperti tidak diinginkan kala itu. Pertanyaan seperti “Kenapa ibu pulang? Sementara aku tetap tinggal disini?” selalu menyeruak dalam pikiran seorang bocah yang belum genap 6 tahun. Dalam keadaan bingung, aku mencoba menghibur diri dengan memainkan pistol mainanku yang mengeluarkan suara yang cukup mengganggu gendang telinga.

“Berisik!” sentak Bibiku sambil menepuk mainanku.

Kemudian bibiku mulai membicarakan sesuatu yang buruk tentang ayahku. Yang kala itu masih ku anggap sebagai pahlawanku. Masalahnya, kenapa harus aku yang jadi sasaran? Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. Bertemu dengan ayah yang ku rindukan pun jarang, tiba-tiba seseorang mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan di hadapanku. Apa yang sebenarnya yang terjadi?

“Apa yang sudah ayahku perbuat sehingga semua seakan membencinya?” ujarku dalam hati.

Hari demi hari terlewati, pikiranku pun teralihkan. Tanpa sadar aku tahu bahwa hidup dalam keluarga neraka ini merupakan takdir yang harus ku hadapi. Setidaknya, ada sosok nenekku yang baik dan peduli padaku. Ia yang telah berjasa mengajarkanku cara membaca dan berhitung. Ia bagaikan kipas angin kedamaian di dalam sebuah ruangan penuh dengki tanpa ventilasi.

“Ah aku sudah tidak tahan mengingat masa kecilku yang menyedihkan ini.” gerutuku dalam hati sambil berusaha kembali ke kasurku.

Aku pun bangun dari tidurku sambil menatap jam di dinding kamar. Tanpa sadar aku sudah terlelap selama satu setengah jam. Sesungguhnya aku tahu apa yang sudah terjadi, tidak bisa kembali. Aku yang sekarang adalah karena masa laluku. Tumbuh besar dengan caci maki dan aku melewati semuanya tanpa sosok ayah yang ku harap mampu menuntunku kala itu. Kini aku telah menjadi laki-laki ‘by nature’ yang pada hakikatnya aku tetap membutuhkannya. Ruangan di hatiku yang kosong tetap membutuhkan ayah.

“Brengsek, kemana saja kamu selama ini?”

Advertisements

Kau

Image0042Kau.

Yang selalu ku lupakan dan juga ku rindukan.

Sosokmu selalu terombang-ambing di dalam galaksi pikiranku.

Yang kadang bersembunyi di balik bintang-bintang yang tak mampu ku gapai.

Kau adalah sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab.

Meski eksistensiku sendiri adalah sebuah jawaban untukmu.

Kau yang katakan itu semua padaku.

Kau pun mempertanyakanku.

Hati kecilku tak pernah salah.

Ku beranikan diri untuk menggapai bintang-bintang tempatmu bersembunyi.

Disana kau ku temukan di antara segudang kegundahanku yang abadi.

Kau adalah pertanyaanku.

Kau adalah jawabanku.

Kau adalah eksistensiku.

Kau adalah segalanya.

Tanpamu, aku hanyalah semesta alam tanpa planet-planet di dalamnya.

Tanpamu, aku hanyalah selembar kertas penuh goresan tinta tak berarti.

Tanpamu, aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang.

Tanpamu, tulisan ini takkan pernah ku buat.