Tujuh

Treasure Chest Inside My HeartRasa cemas yang kulalui selama kurang dari dua bulan akhirnya membuahkan hasil yang selalu kuimpikan. Tepat setelah jarum pendek menunjuk pukul 00.00 pada tanggal Tujuh Juli Dua Ribu Tujuh Belas. I asked her to be my girlfriend and I could barely listen she said ‘yes’ in her lovely voice. It was a super weird experience, you know. We both laughed because we both know that we have already been in a boyfriend-girlfriend relationship for about a month or two (we call it ‘unofficially’ tho). But at least, we can call it ‘officially’ now. Haha.

Mungkin semua ini berkat ‘kejujuran’ yang selalu kuusung semenjak memulai percakapan dengannya di dunia digital waktu itu. Entah apa yang kupikirkan saat itu, yang pasti aku harus jujur dengan perasaanku. Pada awalnya, tepat pada tanggal Delapan Mei, aku terbangun dari sebuah mimpi dimana aku melihatnya ada di depanku mencoba meraih tanganku, mengajakku berlari, dan aku menyambut ajakan itu. Apa arti itu semua? Kemudian aku mencoba mengorek-ngorek isi hatiku sambil setengah mencoba membaringkan badan dan alangkah kagetnya ternyata aku masih menemukannya di dalam sana, bagaikan sebuah artefak yang tak tersentuh jaman dikurung dalam sebuah peti yang kubuang kuncinya ke samudra.

Itulah dia.

Hanya bermodalkan kejujuran hati ternyata semesta alam bagaikan mendukungku. Keajaiban terus datang silih berganti entah itu sesuatu ‘yang remeh’ atau ‘yang penting’ sekali pun. Jangankan aku, dia sendiri pun tak mengerti ‘kenapa bisa seperti ini?’. Kau tahu rasanya kebahagiaan bercampur kebingungan? Bingung kenapa bisa begitu mudahnya, seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan kepada orang tuanya dan mendapatkannya tanpa diomeli terlebih dahulu. Kini aku meyakini jika tidak semua hal dalam kehidupan ini bisa dimengerti oleh nalar dan akal sehat manusia. Sekuat apapun kita mencoba mencari jawaban. Kita hanyalah manusia biasa yang sudah seharusnya bersyukur karena nikmat Tuhan itu nyata.

Thanks for always being ‘there’, baby.

Advertisements