Jangan Pernah Menyerah Ya!

“Jangan pernah menyerah ya!” katanya.

Kata-kata ini tertancap kuat dalam hatiku. Kupikir kau akan sama seperti mereka di luar sana, yang selalu mengingatkanku soal ‘realita’ yang ada. Tapi sesuai dengan dugaanku, kau memang berbeda dari yang lain dan tetap menjadi pribadi yang sama. “Bagaimana kau bisa tahu?” Kau ingat 8 tahun lalu saat kita masih stay in touch, aku dan bandku sedang menanti giliran tampil untuk pertama kali di depan publik? Saat itu aku mengisi waktu luangku dengan berbincang-bincang denganmu lewat aplikasi YM (Yeah, you know It stands for Yahoo Messenger. Feels old enough, yet eh?). Entah ku tak ingat apa yang sedang kita bicarakan namun yang selalu kuingat adalah saat aku akan mengakhiri perbincangan kita karena waktu tampilku sudah tiba. Kira-kira seperti ini:

“Aku manggung dulu ya?”

“Ya, sukses manggungnya. Semangat!”

Entah seperti apa obrolan yang sebenarnya namun kira-kira rasanya sama seperti itu.

Meski terpisah selama 8 tahun, pemikiranku tentangmu tidak pernah berubah. Pengalaman-pengalaman hidup yang kau hadapi selama jangka waktu yang begitu lama itu sudah tentunya membuatmu menjadi orang berbeda, begitu pula dengan diriku. Tapi hal itu tak berlaku bagimu. Entah kenapa aku selalu mengenalmu sebagai seorang yang suportif hingga pada akhirnya aku bisa mengulang kalimat di atas dan kau pun menjawabnya dengan jawaban yang persis sama seperti dulu. Namun dengan tambahan:

“Kalau sudah beres, kabari ya!”

Dan kemudian aku sadar aku sudah tidak berkhayal lagi.

Advertisements

Life Is A Battlefield

Prosperity

“Prosperity” (2017) – Tinta pada kertas

“Hidup adalah sebuah medan perang.”

Itulah kira-kira terjemahan dari judul di atas. Kalimat yang tercipta dalam otakku yang selalu kuyakini. Tak peduli kita sekarang sedang susah atau senang, yang pasti semua yang ada di dunia ini adalah cobaan. Tidak usah jauh-jauh membayangkan menjadi seorang gladiator di coloseum seperti dalam film-film hollywood jika kamu bukan. Toh kita semua sesungguhnya adalah seorang gladiator yang sedang melawan singa (nasib) di coloseum (kehidupan). Haha.

Apapun nasibmu itu semua adalah cobaan. Disaat kita sedang dalam keadaan susah, kita diuji untuk seberapa tabah kita dalam menghadapi cobaan itu. Begitu pula ketika kamu sedang ‘di atas’ alias senang, kita diuji seberapa kuatnya kita untuk tidak terlena dengan kebahagiaan yang sedang kita nikmati. Apalagi kebahagiaan yang bersifat materi. Ketika kita dapat uang banyak, apakah kita mampu untuk tidak membeli sesuatu yang tidak terlalu penting? Ketika kita didekatkan dengan jodoh yang baik, apakah kita mampu menjaga hati kita untuk tidak berpaling darinya?

Menurutku lebih sulit diberi ujian dalam keadaan senang ketimbang disaat susah. Karena disaat susah, kita paham betul jika situasi itu adalah sebuah cobaan. Nah, disaat senang, kita lebih cenderung terlena dengan apa yang sedang kita miliki. Entah itu menjadi angkuh atau menjadi pribadi yang merendahkan orang lain.

“Kalau kedua nasib itu merupakan sebuah cobaan, lantas apa yang harus kita lakukan?”

Life is all about balancing the unbalanced. Cara menyeimbangkannya yaitu dengan bersyukur. Jika kita tak pernah belajar bersyukur, sesungguhnya kita tidak akan pernah belajar makna hidup yang sebenarnya. Kita tidak mampu mengukur bahwa sesungguhnya kita itu ‘kelebihan materi’ atau ‘kesusahan kita masih di level satu’. Maka apapun nasib yang sedang kau hadapi, just don’t let guard down, buddy. Belajarlah bersyukur, caranya? Mulai dari ‘Be grateful for every breath you take, ’cause it’s still free.’

Kebayang gak kalau nafas aja harus bayar? Nah lho.