Perbincangan Di Eskalator

Seperti biasa, dengan senyuman manis khasnya, di atas eskalator yang menuntun kita ke lantai atas, dia kemudian bertanya,

“Andai kau diberi kesempatan untuk me-reset hidupku sesuai kemauanmu, kau mau aku seperti apa?”

“Kau yang sekarang. Karena kau yang sekarang ada bukanlah tanpa alasan. Kau ditempa lewat banyak peristiwa, lika-liku hidup yang tak nampak dari keseharianmu tapi mungkin itulah cara Tuhan mengabulkan doa-doamu dan doa-doaku untuk bisa bersamamu sedari dulu. Misalnya, kau yang saat itu adalah seorang yang menyebalkan ditempa supaya kau menjadi seorang yang tidak menyebalkan lagi. Begitu pula aku ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik melalui peristiwa-peristiwa di masa lampau, supaya apa? Supaya aku masuk kualifikasi agar doa-doaku bisa dikabulkan. Ibaratnya, bagaimana bisa kau tahu kau itu ‘kaya raya’ jika kau tidak pernah tahu rasanya ‘miskin’? Karena kekayaan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Dengan memilikimu yang sekarang saja, itu semuanya sudah cukup. Tetaplah jadi pribadimu yang sekarang.” jawabku panjang lebar.

Senyum kecilnya kembali menghiasi wajahnya setelah sedari tadi begitu serius menyimak kata-kataku. Tak terasa, akhirnya kita pun sampai juga di lantai atas.

Advertisements