Tujuh Di Tahun Kedua

Tak terasa sudah tepat satu tahun kita melanjani hidup ini bersama. Bayangkan, setelah kuhitung-hitung tiket nonton bioskop yang kusimpan di lemari, ternyata kita sudah menonton 45 film dalam setahun. Terlalu banyak momen indah yang mungkin kata-kata pun tak mampu menjabarkannya. Setelah berjumpa denganmu, lambat laun aku kembali lagi menjadi diriku yang sama seperti 10 tahun yang lalu. Rasanya baru kemarin aku bertemu denganmu. Masih ingat rasanya ketika kita sedang melahap nasi goreng di dekat kantor dimana kamu bekerja dan dalam pikiranku terbesit pertanyaan seperti “kalau aku tidak memilikimu, apa yang harus aku lakukan?”.

Aku berharap aku mampu melewati tahun-tahun berikutnya denganmu. Momen-momen kemarin akan selalu kusimpan didalam pikiran dan hatiku. Tetaplah menjadi dirimu yang selalu mengingatkanku dikala aku berada di atas dan mendukungku dikala aku berada pada titik terendah. Tujuh di tahun kedua, semuanya tak terasa telah berlalu begitu aja. Terima kasih Tuhan telah mengabulkan sebagian dari doa-doaku. Aku akan selalu setia dan menjaganya.

Advertisements

Senyuman Untukku

Kemarahanmu akan masa lalu, penyesalan hidup yang tidak pernah usai, kau muntahkan semua melalui ucapan-ucapanmu. Rasa penasaranku roboh seketika saat kau bilang jika kau sangat benci tempat dimana kakiku berpijak kala itu. Telapak tanganku basah bercucuran keringat, pikiranku mulai terbang kesana-kemari seperti seekor burung yang tak tahu arah pulang.

Aku kayuh pedal sepedaku menuruni bukit menuju pusat kota dimana mungkin kepingan-kepingan kenangan pernah kau jatuhkan disana. Semakin cepat kukayuh sepedaku, semakin mampu aku rasakan apa yang kau rasakan, rasa betapa bencinya kau akan tempat itu. Mataku melihat bayang-bayangmu di setiap sudut kota dengan senyuman indah di wajahmu. Senyuman yang kau lontarkan bukan untukku. Pikiranku semakin terombang ambing mengingat sebuah ingatan yang tak pernah kumiliki, kayuhan sepedaku semakin kencang, sekencang hembusan nafas kebencianmu.

Aku bersumpah akan membawamu ke kota itu. Karena kini aku punya alasan yang sama denganmu. Kita akan torehkan tinta merah dengan namaku di setiap penjurunya. Menghapus semua kebencianmu bersamaku sampai aku mampu melihat senyuman indahmu itu lagi. Senyuman indah yang hanya kau berikan untukku.

Teman Ayah

“Ayo bergegaslah ganti pakaianmu, kita akan berkunjung ke rumah teman ayah” ucapnya.

“Ayo!” jawab si anak laki-laki dengan semangat.

Sebuah kalimat ajakan yang takkan pernah terhapuskan dalam pikiran seorang anak laki-laki yang masih seumur jagung sampai kapan pun. Tak berselang beberapa lama, mereka pun berangkat menggunakan mobil namun jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh untuk mereka sampai ke tempat tujuan. Tibalah mereka di sebuah rumah, mungkin lebih tepatnya sebuah kamar kost. Setelah beberapa ketukan kemudian pintu pun terbuka. Sesosok wanita berambut pendek menyambut mereka dengan senyuman. Si anak laki-laki tersebut terkejut karena dibenaknya “teman ayah” itu adalah seorang laki-laki seperti pamannya yang senang melucu. Ternyata bukan, melainkan seorang perempuan. Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar yang ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan kamarnya di rumah sana. Kepala si anak tersebut terus tertunduk tak mampu melihat jelas wajah si perempuan. Pertanyaan-pertanyaan liar menghiasi pikirannya sampai-sampai pertanyaan basa-basi si perempuan tak ia hiraukan.

“Ayah kan punya ibu? Lalu siapa perempuan ini?”

“Aku tak tahu apa yang sedang terjadi. Aku tak mengerti. Tapi aku tahu ini adalah sesuatu yang salah.”

Saat si anak sedang sibuk dengan pertanyaan sendiri, si ayah menepuk pundaknya lalu menyuruhnya tidur. Kemudian si ayah berkata…

“Badanku pegal-pegal, tolong pijat punggungku.”

Si anak sontak membalikan badan, menghadap tembok yang dingin sambil berkemelut dengan pikiran-pikiran dan perasaan yang tak ia mengerti sedikitpun. Pertanyaan “Siapa dia?” terus bergentayangan dalam pikirannya. Meski pada akhirnya dia menyerah lalu memaksakan dirinya untuk tidur sambil menahan air matanya.

Pagi pun tiba.

Terbangun di tempat yang sama yang membuatmu bingung memang tak pernah menyenangkan. Si anak tetap menundukan kepalanya dan diam seribu bahasa saat diajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh. Si perempuan pun menyodorkan mie instan yang memang kebetulan perut si anak juga sedang keroncongan. Semangkuk mie instan habis dilahap, kemudian si ayah berpamitan bergegas pulang. Ditengah perjalanan, langkah si ayah berhenti, menatap wajah anak bungsunya yang masih dalam keadaan bingung dalam-dalam.

“Jangan bilang-bilang ibu ya.”

Stuck In My Head

Stuck In My Head

Pada tanggal 28 Mei 2018 lalu, aku memutuskan untuk merilis salah satu lagu akustikku secara digital di akun Bandcampku yang berjudul “Stuck In My Head”. Lagu ini sebenarnya pernah aku upload di akun soundcloudku menggunakan handphone namun hasilnya kurang memuaskan. Jadi aku memutuskan untuk merekam ulang dengan menggunakan gitar akustik (versi awalnya menggunakan gitalele). Proses rekamannya cukup menyenangkan karena semuanya serba spontan, aku merekamnya di kamar salah seorang temanku yang kebetulan kita berdua memang sedang mengerjakan proyek musik yang sama. Bermodalkan microphone USB dan suasana sekitar yang berisik jadi kesannya serba natural.

Lagu ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang perempuan di dalam angkot (angkutan kota). Memang lucu, kadang disaat hati kita sedang tidak ada yang punya, jatuh cinta muncul tiba-tiba tidak mengenal tempat dan waktu. Begitulah kira-kira ceritanya. Jika kamu punya senggang dan kebetulan sedang membaca tulisan ini, silahkan dengarkan lagunya di bawah ini. Bagikan tautannya jika kamu suka!

Belenggu

Entah sejak kapan dia memulai hobi mengisolasi diri di dalam kamar. Pikirannya selalu kalang kabut setiap kali memikirkan hari esok, matanya selalu tertuju pada langit-langit kamar yang menghitam akibat tetesan air hujan yang berhasil menyelinap masuk dari atap rumah. Ketika pintu kamar tertutup rapat, ia akan duduk di atas pembaringannya dengan posisi yang sama seperti 15 menit yang lalu. Jika ia tak sedang memandang layar ponselnya, sudah dipastikan ia sedang menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang telah terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Kemudian ponselnya berdering tanda masuknya pesan singkat.

“Apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya seseorang yang ia kasihi.

Kau tahu, apapun jawaban yang ia lontarkan kala pertanyaan itu muncul, ketahuilah, sejujurnya ia tak benar-benar tahu apa yang akan ia lakukan hari itu.

Karena dia adalah aku, si penderita fobia sosial yang begitu kau cintai.

We Could Burn Together

“We could burn together”

Kalimat itu kau comot dari sebuah lirik seorang penyanyi kesukaanmu dan kau menuliskannya dengan gaya lettering yang sedang kau tekuni dan memberikannya kepadaku setelah aku bilang,

“Hari ini hari ulang tahunku lho! Beri aku hadiah karya senimu” kataku dengan pedenya.

Dan kau mengirimku foto karyamu dengan tulisan tersebut sebagai hadiah ulang tahunku. Kau tahu apa yang ada dipikiranku saat itu?

“I wish we could burn together.”

Setahun berlalu, kehidupan yang selalu kuidam-idamkan bersamamu kini telah menjadi lebih dari kenyataan sejak itu. Bagaikan mimpi, hidupku berubah semenjak kau mengisi hatiku. Dan tadi malam tepat pada pukul 00.00, di bulan dan tanggal sama dengan ulang tahunku, kau memegang tanganku dan mendoakanku dengan hal baik yang macam-macam kemudian memberiku sebuah boks dengan pattern gitar stratocaster merah yang berisikan kepingan compact disc S/T The Clash yang pernah kubilang kepadamu dan lebih mengejutkan adalah kau pun memberiku Clarke Tin Kazoo, instrumen musik favoritku yang selalu mengganggu gendang telingamu.

Terima kasih telah mencintaiku seperti yang kau selalu lakukan. Cintaku kepadamu takkan lekang oleh waktu. Semoga Tuhan selalu bersama kita. Amin.