Tujuh Di Tahun Kedua

Tak terasa sudah tepat satu tahun kita melanjani hidup ini bersama. Bayangkan, setelah kuhitung-hitung tiket nonton bioskop yang kusimpan di lemari, ternyata kita sudah menonton 45 film dalam setahun. Terlalu banyak momen indah yang mungkin kata-kata pun tak mampu menjabarkannya. Setelah berjumpa denganmu, lambat laun aku kembali lagi menjadi diriku yang sama seperti 10 tahun yang lalu. Rasanya baru kemarin aku bertemu denganmu. Masih ingat rasanya ketika kita sedang melahap nasi goreng di dekat kantor dimana kamu bekerja dan dalam pikiranku terbesit pertanyaan seperti “kalau aku tidak memilikimu, apa yang harus aku lakukan?”.

Aku berharap aku mampu melewati tahun-tahun berikutnya denganmu. Momen-momen kemarin akan selalu kusimpan didalam pikiran dan hatiku. Tetaplah menjadi dirimu yang selalu mengingatkanku dikala aku berada di atas dan mendukungku dikala aku berada pada titik terendah. Tujuh di tahun kedua, semuanya tak terasa telah berlalu begitu aja. Terima kasih Tuhan telah mengabulkan sebagian dari doa-doaku. Aku akan selalu setia dan menjaganya.

Iklan

We Could Burn Together

“We could burn together”

Kalimat itu kau comot dari sebuah lirik seorang penyanyi kesukaanmu dan kau menuliskannya dengan gaya lettering yang sedang kau tekuni dan memberikannya kepadaku setelah aku bilang,

“Hari ini hari ulang tahunku lho! Beri aku hadiah karya senimu” kataku dengan pedenya.

Dan kau mengirimku foto karyamu dengan tulisan tersebut sebagai hadiah ulang tahunku. Kau tahu apa yang ada dipikiranku saat itu?

“I wish we could burn together.”

Setahun berlalu, kehidupan yang selalu kuidam-idamkan bersamamu kini telah menjadi lebih dari kenyataan sejak itu. Bagaikan mimpi, hidupku berubah semenjak kau mengisi hatiku. Dan tadi malam tepat pada pukul 00.00, di bulan dan tanggal sama dengan ulang tahunku, kau memegang tanganku dan mendoakanku dengan hal baik yang macam-macam kemudian memberiku sebuah boks dengan pattern gitar stratocaster merah yang berisikan kepingan compact disc S/T The Clash yang pernah kubilang kepadamu dan lebih mengejutkan adalah kau pun memberiku Clarke Tin Kazoo, instrumen musik favoritku yang selalu mengganggu gendang telingamu.

Terima kasih telah mencintaiku seperti yang kau selalu lakukan. Cintaku kepadamu takkan lekang oleh waktu. Semoga Tuhan selalu bersama kita. Amin.

2017, Tahun Terbaikku

Sudah kuduga, angka 17 adalah angka favorit sekaligus keberuntunganku. Apa yang terjadi di tahun ini memang tidak pernah kusangka-sangka. Resolusiku pada tahun ini sebenarnya hanyalah mengusaikan hubungan tak sehat yang selama ini kujalani. Resolusi tahun ini juga sebenarnya adalah resolusi tahun sebelumnya yang ‘tertunda’. Dan ternyata hal itu mampu kurealisasikan berkat pertemuanku dengan seseorang yang selama bertahun-tahun ku untit sosial medianya, yang kini telah menjadi kekasihku. Semuanya terasa begitu tiba-tiba, berawal dari sebuah mimpi, dia kini menjadi salah satu motivasiku dalam menjalani hidup yang lebih baik kedepannya (semoga kita cepat menikah ya!). You are one of those dreams of mine that come true surprisingly.

Selain soal cinta-cintaan, di tahun 2017 ini juga, aku membentuk band (aku bermain bass) dengan orang-orang yang kuidolakan, The Shoptalks namanya, meski hanya menelurkan 3 demo lagu yang malah justru menjadi gerbang untuk bergabungnya aku dengan sebuah band yang keren, yang takkan kusebutkan namanya. Aku tulis satu dari tiga lagu demonya The Shoptalks yang berjudul “Bersamaku”. Lagu ini menceritakan tentang pertemuan pertama seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang dicintainya setelah 11 tahun tidak berjumpa (tentang kekasihku!).


Selain itu, iseng-iseng aku promosikan The Shoptalks ke one of my guitar gods, Fifi (ex Teengenerate) via DM Instagram. Dia bilang dia bakal coba dengar, aku pikir semuanya cuma basa basi saja layaknya respon artis-artis biasanya. Tapi ternyata diluar dugaan, dia promosikan The Shoptalks lewat akun Twitternya. HOLY SH*T!!!

So far, tahun 2017 memang tahun terbaikku. Tinggal menghitung hari, aku akan menguncapkan selamat tinggal padanya. What a surpringly amazing year! Dalam kondisiku yang sekarang, aku semakin semangat menghadapi tahun-tahun yang akan datang.

Kesakralan 17 Mei

Tepat pada tanggal 17 Mei, saya dilahirkan oleh seorang ibu yang berusia 46 tahun. Bayangkan 46 tahun, lho! Memang setelah beberapa kali ibu saya mengalami keguguran akhirnya ia melahirkan kakak perempuan saya tahun 1984 dan saya di tahun 1992.

“Terus ini ngomongin tanggal lahir saya sama gambar orang-orang ngumpul pake baju kuning kaya tokay apa urusannya?” tanya seorang teman saya yang berbentuk fiktif yang saya pikir dia sedang baca tulisan ini padahal engga.

Yup, (apanya yang yup?!) kemarin saya berulang hari lebih tepatnya, karena cuma hari dan bulan yang balik, tahunnya kagak. Ah bertele-tele. Yang ke-22. Dari awal saya gak mau kado apa-apa tapi emang gak ada yang ngado juga sih πŸ˜† memang yang paling penting buat saya adalah menangnya Atletico Madrid di laga pamungkas lawan Barcelona di kandangnya, Camp Nou yang diadakan di tanggal 17 Mei 2014 tadi malam. Untuk pertama kalinya saya ikut nobar dengan suporter klub lain. Gila itu Culesnya ada bejibun lah saya cuma bawa 3 temen saya yang sesama Atleticos juga. Waktu Atletico menyamakan kedudukan, otomatis pada selebrasi tuh (berdiri sama teriak-teriak) nah keliatan tuh Atleticos-nya gak cuma ber-3 ternyata tapi masih ada (bisa diitung pake jari kaki).

Karena cuma butuh seri, ya akhirnya Atletico Madrid keluar sebagai juara liga musim 2013/2014. CIhuuuuuuyyyy! Hadiah ulang tahun ke-2 dari Atletico setelah setahun yang lalu tepat di hari ulang tahun saya juga, Atletico juara Copa Del Rey apalagi lawannya Real Madrid di Bernabeu pula πŸ˜† Ole Ole Ole Campeones!