Sebuah Mimpi

Di padang rumput yang luas.

Mataku terbuka.

Kuhadapkan pandanganku kedepan.

Wajah yang begitu familiar datang dari arah belakangku.

Tersenyum kepadaku.

Aku terkejut.

Selama ini aku selalu berdoa untuk bisa bertemu denganmu.

Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya, terjawab sudah doaku.

Kau datang dengan uluran tanganmu sambil berkata…

“Ayo ikut denganku!”

Aku ingat, betapa menohoknya wajahku kala itu.

“Kenapa kamu ada disini?” tanyaku.

Kau tak menjawab pertanyaanku.

Senyuman dan uluran tanganmu adalah pertanda yang abadi.

Aku selalu tahu apa arti dari mimpi itu.

Selalu yakin apa artinya.

Aku bersumpah.

Kala itu Tuhan sedang menunjukan Kebesaran-Nya dengan memberiku sebuah isyarat.

Aku sambut uluran tanganmu.

“Jika denganmu, aku ikut.”

Kemudian kita berlari menuju cahaya yang kemudian membuatku terjaga dari tidurku.

Semenjak itu, hidupku berubah.

Advertisements

Bis Hantu

Malam itu, sekitar tahun 2000-an, mendadak ibuku mengajakku dan kakak perempuanku untuk pergi ke Tangerang, kota dimana bapakku mencari nafkah. Kabarnya, bapakku jatuh sakit lantas menyuruh ibuku untuk kesana. Tak begitu ingat pukul berapa kami berangkat, yang pasti, langit sudah gelap, kami pun berniat untuk berangkat menggunakan bis dari Terminal Leuwi Panjang, Bandung. Namun sial, karena hari sudah terlalu sore, bis yang jurusan kesana sudah tidak ada, maklum bis dulu tidak sebanyak sekarang. Kemudian salah seorang kernet disana menyarankan kami untuk naik bis dengan tujuan ke Terminal Kampung Rambutan. Ibuku pun akhirnya menyutujuinya dengan harapan bis tujuan ke Tangerang masih tersedia.

Singkat cerita, akhirnya kami pun sampai di Terminal Kampung Rambutan pada sekitar pukul 11 malam. Namun kesialan menimpa kami lagi, bis yang kita harapkan ternyata sudah tidak ada juga. Tak patah semangat, kita tetap mencoba mencari bisnya dengan berkeliling terminal. Ditengah-tengah pencarian, kami dihampiri oleh seorang ‘calo’ yang ternyata berasal dari Cicadas (salah satu daerah di Bandung), entah aku tak ingat siapa namanya, yang pasti dia banyak berbincang dengan ibuku menggunakan bahasa Sunda.

“Bu, tunggu disini ya, saya coba carikan bisnya siapa tahu masih ada. Jangan kemana-mana.” ucapnya kepada ibuku sebelum ia meninggalkan kami.

Tak menunggu beberapa menit, akhirnya, si ‘calo’ itu datang dengan satu bis. Merasa lega, karena kami merasa putus asa harus menghubungi siapa karena kami tak punya sanak suadara disana. Tanpa merasa curiga, kami bertiga naik bis itu. Namun ada satu hal yang ganjil yang baru kusadari setelah semua terjadi yaitu…

Pintunya terbuka sendiri.

Setahuku teknologi pintu otomatis belum ada saat itu. Aku merasa ganjil tapi tak terlalu peduli dengan hal tersebut karena yang menjadi fokus utama kami adalah sampai ke tempat tujuan kami dengan selamat.

Di dalam bis, ternyata hanya ada satu supir, satu kernet, dan kami bertiga yang menjadi penumpangnya. Karena kami duduk di depan tepatnya berada di belakang supir. Aku masih ingat bisa melihat si supir dari spion namun anehnya hanya poni rambutnya yang terlihat. Si kernet berdiri disebelah bangku kami, dia mengenakan topi, wajahnya pun tak begitu jelas. Masih tertanam dalam pikiranku, tubuhku yang masih bocah kala itu yang tak bisa diam mencoba melihat ke belakang bis. Ternyata gelap sekali. Entahlah, menurutku gelapnya yang sangat tidak wajar. Bahkan lampu dim penumpang pun tak dinyalakan sama sekali.

“Teh, cuma kita doang siah penumpangnya.” ucapku sambil usil mencolek-colek kakakku.

Raut wajah kakakku sangat masam sekali sambil sesekali menggigit Beng-Bengnya. Kupingnya disumbat earphone mendengarkan musik lewat Walkman-nya, tampak ia sedang asyik tak mau kuganggu. Akhirnya aku mengatakan hal yang sama pada ibuku.

“Udah kamu duduk, jangan banyak tingkah, berdoa saja.” kata ibuku singkat.

Aku pun diam sambil ku tengok keluar jendela, aku perhatikan pohon-pohon di jalanan seperti lebih rendah jaraknya dibandingkan bis ini. Tapi aku masih kecil, tak begitu peduli. Tak lama kemudian si kernet menanggih uang ongkos kepada ibuku. 10 ribu Rupiah per orang, berarti 30 ribu jumlah yang harus dibayarkan. Ibuku memberi uang pecahan 50 ribu, si kernet memberi uang kembalian 20 ribu yang langsung dimasukan ke saku oleh ibuku.

Di jalan yang begitu sepi, si kernet tiba-tiba meminta turun di pinggir jalan, entahlah daerah situ seingatku tak ada satu orang pun, hanya kios-kios bobrok tak berpenghuni. Sebelum turun dia berucap…

“Ibu ini harus sampai pada tujuannya.”

Si supir hanya menjawab dengan mengangguk.

Kemudian ia turun.

Perjalanan berlanjut, namun tak selang beberapa menit, ibuku meminta turun kepada si supir bis. Setelah turun, kami langsung menaiki taksi yang entah tiba-tiba ada di hadapan kami. Setelah kejadian itu, ternyata ibuku sudah merasakan hal yang ganjil saat itu makanya dia minta turun padahal perjalanan kami masih beberapa kilo lagi.

Akhirnya kita pun sampai di kediaman bapakku.

“Berapa, pak?” tanya ibuku kepada supir taksi

“20 ribu, bu.”

Ibuku ingat uang 20 ribu kembalian bis tadi yang ia simpan di sakunya. Tapi alangkah terkejutnya kami saat melihat nominal uangnya. Bukan 20 ribu tetapi masih 50 ribu! Tanpa berpikir aneh-aneh, akhirnya ibu bayar ongkosnya dan kami pun masuk ke rumah. Dan ternyata setelah itu kami pun sadar, perjalanan yang seharusnya memakan waktu kurang lebih 2 jam, tadi hanya ditempuh dalam waktu 15 menit.

Singkat cerita, akhirnya kita sudah pulang kembali lagi ke Bandung. Saat itu Ibuku merasa berhutang budi kepada si ‘calo’ yang mencarikan kami bis kemarin. Aku tak sadar ternyata ibuku meminta nomor teleponnya saat kami sedang menunggu di Kampung Rambutan. Dengan niat sekedar ingin mengucapkan terima kasih, akhirnya ibuku menghubunginya. Namun apa yang terjadi…

Si ‘calo’ bilang bahwa dia tidak berhasil mencarikan bisnya waktu itu, saat dia kembali menghampiri kami, ternyata kami sudah tak berada di tempat kami menunggu(???). Karena penasaran lantas dia bertanya apakah ibuku mencatat atau tidak nomor bisnya. Soal sepele seperti Ibuku sudah pasti mencatatnya karena menurutnya kala itu malam sudah sangat larut, takutnya terjadi apa-apa jadi Ibu tulis nomor platnya. Setelah memberi tahu nomor platnya, si ‘calo’ terdiam, kemudian bilang…

“Waduh, bu! Bis yang kemarin itu pernah terbakar di jalan tol dan memakan 2 korban yaitu si kernet dan supirnya beberapa tahun silam. Mungkin arwahnya merasa iba dengan ibu. Kalian adalah orang kesekian yang mengalami hal tersebut.”

Based on my own true story.

Pertunjukan Telah Usai

Ruangan itu pengap dengan aroma badan yang begitu pekat menusuk indra penciumanku. Lihat saja karpet berwarna hijau seperti-kotoran-kuda itu basah karena cucuran-cucuran keringat. Sudah pasti salah satu faktor penyebabnya adalah mesin AC yang tidak bekerja seperti semestinya. Satu per satu penonton pun keluar dari ruangan itu. Kepuasan tampak bersemayam dibalik raut wajah mereka yang lembab berminyak, seperti rasa penasaran seorang perjaka di malam pertama yang akhirnya terjawab juga. Mungkin kurang lebih itulah yang mereka rasakan.

Pertunjukan telah usai.

Tinggal aku dan dia yang masih bersandar di tembok sambil berusaha menghela nafas di ruangan yang cukup bisa menampung 40-an orang. Gitar dan pedal-pedalnya masih berserakan tak karuan di lantai yang tak lekas ia bereskan.

“Saat aku sedang berpentas, aku seakan lupa soal masalah-masalahku. Tapi setelah semuanya usai, aku kembali sadar, besok aku akan pulang kembali ke rutinitasku sehari-hari. Kembali bekerja, berkutat di depan komputer, kemudian pulang ke rumah hanya untuk meringkuk di atas kasurku terpenjara bersama kegundahanku.” Ucapnya spontan sambil mengusap keringat di keningnya.

Kemudian aku membantunya membereskan semua pedal gitarnya yang masih berserakan sambil memikirkan ucapannya karena aku pun merasakan apa yang ia rasakan setiap hari. Mungkin kita adalah orang-orang gundah yang berharap bisa mengalunkan musik setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik tanpa henti. Tak peduli dengan ‘kehidupan nyata’ yang selalu mereka gembor-gemborkan di kuping-kuping yang sudah kenyang oleh hamparan suara distorsi ini.

Walau ruangan sudah kosong, udara pengap itu tak hilang begitu saja. Mungkin cuma hal itu saja yang mampu mendefinisikan semangat yang dirasakan oleh seorang musisi amatir sepertiku setiap hari.

Aku pun bergegas keluar dari ruangan itu dengan kesiapanku dalam menghadapi hari esok yang membosankan.

Renungan Kopi Sebelas Ribu Lima Ratus

Duduk termenung ditemani segelas kopi murah seharga sebelas ribu lima ratus rupiah. Seperti biasa, aku sedang menyendiri berusaha bercumbu dengan pemikiran-pemikiran liarku. Badanku menghadap kaca sehingga aku bisa memperhatikan dua orang pria berkaus oblong berwarna biru dan hitam sedang bercengkrama sambil sesekali menyedot minuman sodanya. Disampingku, terdapat sepasang pemuda yang nampaknya lebih muda dariku sedang asyik curhat soal perkara hidup sehari-hari.

“Mamaku punya uang deposito tapi…” ucap si perempuan kepada teman laki-lakinya, yang tak sengaja kudengar saat aku sedang menyumbat kupingku dengan earphone.

Malam ini, langit begitu gelap namun nampak ragu-ragu untuk menyiram mereka-mereka yang sedang sibuk dalam perjalanan pulang kantor. Namun aku bersyukur, siang tadi, matahari begitu terik karena tak kurang dari dua jam, jemuran-jemuranku yang menggunung itu sudah kering. Jikalau semua jemuran itu tak kering sudah pasti aku tidak akan berada disini menyeruput kopi murahku sekarang. Mungkin aku sedang berbaring di kasur sambil sibuk merubah posisi charger ponselku yang kurang ajar itu. Sudah pertanda bahwa sudah waktunya aku membeli charger yang baru.

AC-nya yang cukup dingin, membuatku cepat-cepat menikmati kopi murahku. Padahal tadinya aku ingin menikmatinya lebih lama. Tak seperti biasanya, kali ini aku tak ditemani oleh kekasihku karena dia sedang sibuk lembur, maklumlah dia seorang arsitek. Dibandingkan dengannya, aku ini cuma seorang pengangguran bodoh yang hanya berharap musik-musiknya dapat menopang hidupnya suatu hari nanti. Aku kadang malu pada diriku sendiri. Masa laluku yang sial membuatku terjebak pada situasi seperti sekarang ini. Aku bagaikan seorang manusia yang lebih tepatnya “mati segan hidup tak mampu”. Ah, sudahlah percuma menyesali yang sudah-sudah. Jika kekasihku dengar, aku tahu apa yang akan dia ucapkan padaku.

“Yang sudah, ya sudah, yang penting sekarang fokus kedepan.”

Ya, kurang lebih seperti itu kalimatnya. Ah, sial, sontak terbayang suara kecilnya saat mengucapkan kalimat itu. Aku jadi merindu. Ketahuilah, bahwa aku sedang membutuhkan pelukanmu sekarang.

Perbincangan Di Eskalator

Seperti biasa, dengan senyuman manis khasnya, di atas eskalator yang menuntun kita ke lantai atas, dia kemudian bertanya,

“Andai kau diberi kesempatan untuk me-reset hidupku sesuai kemauanmu, kau mau aku seperti apa?”

“Kau yang sekarang. Karena kau yang sekarang ada bukanlah tanpa alasan. Kau ditempa lewat banyak peristiwa, lika-liku hidup yang tak nampak dari keseharianmu tapi mungkin itulah cara Tuhan mengabulkan doa-doamu dan doa-doaku untuk bisa bersamamu sedari dulu. Misalnya, kau yang saat itu adalah seorang yang menyebalkan ditempa supaya kau menjadi seorang yang tidak menyebalkan lagi. Begitu pula aku ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik melalui peristiwa-peristiwa di masa lampau, supaya apa? Supaya aku masuk kualifikasi agar doa-doaku bisa dikabulkan. Ibaratnya, bagaimana bisa kau tahu kau itu ‘kaya raya’ jika kau tidak pernah tahu rasanya ‘miskin’? Karena kekayaan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Dengan memilikimu yang sekarang saja, itu semuanya sudah cukup. Tetaplah jadi pribadimu yang sekarang.” jawabku panjang lebar.

Senyum kecilnya kembali menghiasi wajahnya setelah sedari tadi begitu serius menyimak kata-kataku. Tak terasa, akhirnya kita pun sampai juga di lantai atas.

2017, Tahun Terbaikku

Sudah kuduga, angka 17 adalah angka favorit sekaligus keberuntunganku. Apa yang terjadi di tahun ini memang tidak pernah kusangka-sangka. Resolusiku pada tahun ini sebenarnya hanyalah mengusaikan hubungan tak sehat yang selama ini kujalani. Resolusi tahun ini juga sebenarnya adalah resolusi tahun sebelumnya yang ‘tertunda’. Dan ternyata hal itu mampu kurealisasikan berkat pertemuanku dengan seseorang yang selama bertahun-tahun ku untit sosial medianya, yang kini telah menjadi kekasihku. Semuanya terasa begitu tiba-tiba, berawal dari sebuah mimpi, dia kini menjadi salah satu motivasiku dalam menjalani hidup yang lebih baik kedepannya (semoga kita cepat menikah ya!). You are one of those dreams of mine that come true surprisingly.

Selain soal cinta-cintaan, di tahun 2017 ini juga, aku membentuk band (aku bermain bass) dengan orang-orang yang kuidolakan, The Shoptalks namanya, meski hanya menelurkan 3 demo lagu yang malah justru menjadi gerbang untuk bergabungnya aku dengan sebuah band yang keren, yang takkan kusebutkan namanya. Aku tulis satu dari tiga lagu demonya The Shoptalks yang berjudul “Bersamaku”. Lagu ini menceritakan tentang pertemuan pertama seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang dicintainya setelah 11 tahun tidak berjumpa (tentang kekasihku!).


Selain itu, iseng-iseng aku promosikan The Shoptalks ke one of my guitar gods, Fifi (ex Teengenerate) via DM Instagram. Dia bilang dia bakal coba dengar, aku pikir semuanya cuma basa basi saja layaknya respon artis-artis biasanya. Tapi ternyata diluar dugaan, dia promosikan The Shoptalks lewat akun Twitternya. HOLY SH*T!!!

So far, tahun 2017 memang tahun terbaikku. Tinggal menghitung hari, aku akan menguncapkan selamat tinggal padanya. What a surpringly amazing year! Dalam kondisiku yang sekarang, aku semakin semangat menghadapi tahun-tahun yang akan datang.

Apa Yang Kau Pikirkan?

Apa yang kau pikirkan ketika pertama kali berjumpa denganku?

Apa yang kau pikirkan ketika ku katakan semua tentang perasaanku?

Apa yang kau pikirkan ketika kau tahu siapa aku yang sebenarnya?

Apa yang kau pikirkan ketika ku peluk erat dirimu?

Apa yang kau pikirkan ketika ku kecup bibir merahmu?

Apa yang kau pikirkan ketika kau menutup matamu?

Apa yang kau pikirkan ketika kau menatap wajahku?

Apa yang kau pikirkan ketika ku bisikan kata cinta di kuping kananmu?

Apa yang kau pikirkan ketika ku berdiri membelakangimu?

Apa yang kau pikirkan ketika ku berbaring disebelahmu?

Apa yang kau pikirkan ketika ku elus rambut pendekmu?

Apa yang kau pikirkan ketika kau sendirian tak bersamaku?

Apa yang kau pikirkan ketika ku tak seperti yang kau harapkan saat itu?

Apa yang kau pikirkan ketika ku menerimamu apa adanya?

Apa yang kau pikirkan sekarang?