Tidurlah Kekasihku

Tubuhnya meringkuk diselimuti jaket denimnya yang tak begitu tebal. Jam di dashboar mobil baru menunjukan pukul 4 pagi. Seketika aku tersadar kalau ia sudah lebih dulu terlelap dalam tidurnya sebelum aku menutup obrolanku. Kutatap dengan seksama wajah cantiknya yang tampak begitu letih akibat menjalani aktifitas di siang hari kemarin. Bahkan saking lelapnya, suara berisik yang dihasilkan dari knalpot motor sport yang barusan lewat saja tak mampu mengusik tidurnya. Meski saat kutengok, ia sempat membuka matanya lalu kembali menikmati tidurnya tanpa meninggalkan sepatah katapun untukku.

Kekasihku, apapun yang sedang kau impikan saat ini kuharap itu semua dapat membuatmu merasa tentram dan bahagia. Jangan biarkan sesendok kedengkian yang mereka campur adukan ke dalam cangkir tempatmu menuangkan cinta kasihmu merusak tatatan kebahagiaan yang selama ini kita bangun. Mereka semua hanya iri padamu yang bisa dengan mudahnya mendapatkan segalanya. Tuhan sayang betul padamu. Kau bisa lihat sendiri bagaimana kedengkian mereka diuji dengan kesabaranmu. Begitu pula sebaliknya, kesabaranmu diuji lewat kedengkian mereka.

Matanya terbuka tanda ia mulai terjaga, entah sadar atau tak sadar ia kemudian membenahi jaket denim yang menyelimutinya sedari tadi. Ia merubah posisi sandaran kepalanya ke bahuku dan menatapku dalam-dalam sambil menyelipkan sedikit senyuman kecil dari bibir manisnya. Ah, terima kasih Tuhan, engkau sudah mengabulkan doa hambamu yang tak tahu diri ini, hambamu yang lupa bersyukur disaat bahagia, hambamu yang hanya bersimpuh ketika diberi cobaan. Aku berjanji akan menjaga dia sebaik-baiknya. Terima kasih telah membawanya kembali kepadaku.

Tidurlah kekasihku, kita pulang sekarang.

Advertisements

Cita-Cita

Tangan kecilnya melayang-layang di atas sebuah buku tulis kosong sambil menggenggam pencil yang tak terlalu runcing ujungnya. Sesekali ia garukan pensilnya ke ubun-ubun kepalanya. Gelagatnya nampak tak seperti anak laki-laki berumur 8 tahun, ia malah seperti orang tua yang memiliki tunggakan cicilan rumah yang tak mampu dibayarnya. Ayahnya yang kebetulan sedari tadi sedang membuat teh panas memperhatikan anaknya di ruang tamu dari dapur. Tak heran karena anaknya yang biasanya bikin gaduh rumah, kali ini nampak lebih banyak diam. Karena penasaran, lantas ayahnya mendekatinya dan bertanya…”Bud, kamu lagi ngerjain apa? PR? Kok seperti orang bingung begitu?” tanya ayah sambil mengaduk-ngaduk teh panasnya.

“Ah, betul ‘yah, aku bingung mau jawab apa. Pertanyaannya soal cita-cita nanti kalau sudah besar mau jadi apa.” jawab Budi sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Sambil menyeruput tehnya, si ayah kemudian tersenyum sambil bertanya, “kenapa harus bingung? Coba bayangkan saja kalau sudah besar nanti kira-kira kamu akan menjadi apa?”

Masih dengan kebingungan yang sama Budi menjawab pertanyaan ayahnya dengan pertanyaan, “Kalau ayah menginginkanku jadi apa? Karena kudengar semua jawaban teman-temanku soal asal-usul cita-cita mereka, kebanyakan berasal dari harapan-harapan orang tua mereka.”

Sang ayah kemudian menepuk pundak anaknya sambil berkata “hidup yang sesungguh itu terlalu singkat, nak. Jika harus selalu mengikuti keinginan orang lain, kamu takkan pernah tahu arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Hidupmu adalah hidupmu, kamu sendiri yang menjalaninya dan kamu sendiri yang menentukannya. Cita-cita itu hanyalah sebagian kecil dari inti kehidupan. Kamu akan tahu sendiri nanti tentang apa itu cita-cita dan bagaimana cara kerjanya menggapai cita-cita. Ayah hanya minta satu hal kepadamu.”

“Apa itu, ‘Yah?” tanya Budi setengah penasaran.

Sambil mengusap-ngusap rambut anak sulungnya itu, si ayah menjawab, “Jadi lah selalu orang yang berbuat baik, orang yang rendah hati.”

Kebuntuan yang Budi rasakan kini nampak sudah terpecahkan, semua itu berubah menjadi rasa percaya diri. Dengan cepat, Ia langsung menggenggam pensilnya mulai menuliskan sesuatu di buku kosongnya.

“Jadi, kamu sudah menentukan mau jadi apa nanti, Bud?” tanya ayah

Senyuman bangga terurai di wajah Budi sambil menunjukan buku yang baru saja ia tulis kepada Ayahnya.

“Aku mau jadi sopir bis.” tulisnya singkat.

Siapa Aku?

Langkahku perlahan menyusuri paving block yang tidak rata yang nampaknya baru saja dibasahi oleh air hujan. Kutengok kiri-kanan perhatianku tertuju kepada setiap gedung-gedung tua dan manusia-manusia yang berada disekitarku. Mulai dari segerombolan wanita-wanita berpakaian seksi hingga mereka yang sedang asik bercengkrama sambil minum-minum di bar. Seiring dengan langkahku yang semakin pelan, otakku mulai terstimulasi dengan pertanyaan yang sudah pasti aku tak tahu jawabannya.

“Siapa aku?” tanyaku dalam hati sambil menggulung-gulung karcis parkir yang tak berguna.

Kulanjutkan langkahku sembari memilah-milah jawaban yang tepat untuk pertanyaanku tadi, sesekali kukeluarkan ponsel untuk mengganti lagu untuk disingkronisasikan dengan apa yang sedang kurasakan. Ah, mengapa malam ini begitu terasa menyedihkan? Mengapa aku merasa begitu bodoh? Apa ini semua karena efek dari air hujan yang mengguyur daerah ini dua jam yang lalu? Begitu banyak pertanyaanku namun lagi-lagi dia, sang idola, yang muncul.

“Siapa aku?” tanyaku lagi dalam hati yang sekarang aku sedang memegang recehan seribu rupiah dari saku kecilku.

Malam ini begitu dingin, saking dinginnya kumasukan kedua tanganku kedalam saku jaket denimku. Entah kemana lagi aku harus melangkah untuk mencari jawaban dari pertanyaanku. Kulewati mini market yang nampaknya sudah mau tutup. Tanpa sadar kumasukan recehan seribu rupiah yang sedari tadi kupegang ke dalam salah satu kotak donasi yang aku tak perhatikan nama institusinya.

“Siapa aku?” tanyaku lagi dalam hati dengan sedikit perasaan muak.

Kini aku menyusuri jalan yang sama dimana gerombolan wanita-wanita berpakaian seksi tadi berkumpul. Tatapanku kosong menatap langkahku sendiri, pikiranku tetap tertuju pada pertanyaan bodohku yang tak terjawab. Sesampainya di tempat parkir dimana motorku berada. Kupandang langit malam hari ini berharap sosoknya segera keluar dari gedung yang posisinya berada tepat disampingku sambil bertanya kepada diriku lagi.

“Siapa aku?”

Jangan Pernah Menyerah Ya!

“Jangan pernah menyerah ya!” katanya.

Kata-kata ini tertancap kuat dalam hatiku. Kupikir kau akan sama seperti mereka di luar sana, yang selalu mengingatkanku soal ‘realita’ yang ada. Tapi sesuai dengan dugaanku, kau memang berbeda dari yang lain dan tetap menjadi pribadi yang sama. “Bagaimana kau bisa tahu?” Kau ingat 8 tahun lalu saat kita masih stay in touch, aku dan bandku sedang menanti giliran tampil untuk pertama kali di depan publik? Saat itu aku mengisi waktu luangku dengan berbincang-bincang denganmu lewat aplikasi YM (Yeah, you know It stands for Yahoo Messenger. Feels old enough, yet eh?). Entah ku tak ingat apa yang sedang kita bicarakan namun yang selalu kuingat adalah saat aku akan mengakhiri perbincangan kita karena waktu tampilku sudah tiba. Kira-kira seperti ini:

“Aku manggung dulu ya?”

“Ya, sukses manggungnya. Semangat!”

Entah seperti apa obrolan yang sebenarnya namun kira-kira rasanya sama seperti itu.

Meski terpisah selama 8 tahun, pemikiranku tentangmu tidak pernah berubah. Pengalaman-pengalaman hidup yang kau hadapi selama jangka waktu yang begitu lama itu sudah tentunya membuatmu menjadi orang berbeda, begitu pula dengan diriku. Tapi hal itu tak berlaku bagimu. Entah kenapa aku selalu mengenalmu sebagai seorang yang suportif hingga pada akhirnya aku bisa mengulang kalimat di atas dan kau pun menjawabnya dengan jawaban yang persis sama seperti dulu. Namun dengan tambahan:

“Kalau sudah beres, kabari ya!”

Dan kemudian aku sadar aku sudah tidak berkhayal lagi.

Life Is A Battlefield

Prosperity

“Prosperity” (2017) – Tinta pada kertas

“Hidup adalah sebuah medan perang.”

Itulah kira-kira terjemahan dari judul di atas. Kalimat yang tercipta dalam otakku yang selalu kuyakini. Tak peduli kita sekarang sedang susah atau senang, yang pasti semua yang ada di dunia ini adalah cobaan. Tidak usah jauh-jauh membayangkan menjadi seorang gladiator di coloseum seperti dalam film-film hollywood jika kamu bukan. Toh kita semua sesungguhnya adalah seorang gladiator yang sedang melawan singa (nasib) di coloseum (kehidupan). Haha.

Apapun nasibmu itu semua adalah cobaan. Disaat kita sedang dalam keadaan susah, kita diuji untuk seberapa tabah kita dalam menghadapi cobaan itu. Begitu pula ketika kamu sedang ‘di atas’ alias senang, kita diuji seberapa kuatnya kita untuk tidak terlena dengan kebahagiaan yang sedang kita nikmati. Apalagi kebahagiaan yang bersifat materi. Ketika kita dapat uang banyak, apakah kita mampu untuk tidak membeli sesuatu yang tidak terlalu penting? Ketika kita didekatkan dengan jodoh yang baik, apakah kita mampu menjaga hati kita untuk tidak berpaling darinya?

Menurutku lebih sulit diberi ujian dalam keadaan senang ketimbang disaat susah. Karena disaat susah, kita paham betul jika situasi itu adalah sebuah cobaan. Nah, disaat senang, kita lebih cenderung terlena dengan apa yang sedang kita miliki. Entah itu menjadi angkuh atau menjadi pribadi yang merendahkan orang lain.

“Kalau kedua nasib itu merupakan sebuah cobaan, lantas apa yang harus kita lakukan?”

Life is all about balancing the unbalanced. Cara menyeimbangkannya yaitu dengan bersyukur. Jika kita tak pernah belajar bersyukur, sesungguhnya kita tidak akan pernah belajar makna hidup yang sebenarnya. Kita tidak mampu mengukur bahwa sesungguhnya kita itu ‘kelebihan materi’ atau ‘kesusahan kita masih di level satu’. Maka apapun nasib yang sedang kau hadapi, just don’t let guard down, buddy. Belajarlah bersyukur, caranya? Mulai dari ‘Be grateful for every breath you take, ’cause it’s still free.’

Kebayang gak kalau nafas aja harus bayar? Nah lho.

Tujuh

Treasure Chest Inside My HeartRasa cemas yang kulalui selama kurang dari dua bulan akhirnya membuahkan hasil yang selalu kuimpikan. Tepat setelah jarum pendek menunjuk pukul 00.00 pada tanggal Tujuh Juli Dua Ribu Tujuh Belas. I asked her to be my girlfriend and I could barely listen she said ‘yes’ in her lovely voice. It was a super weird experience, you know. We both laughed because we both know that we have already been in a boyfriend-girlfriend relationship for about a month or two (we call it ‘unofficially’ tho). But at least, we can call it ‘officially’ now. Haha.

Mungkin semua ini berkat ‘kejujuran’ yang selalu kuusung semenjak memulai percakapan dengannya di dunia digital waktu itu. Entah apa yang kupikirkan saat itu, yang pasti aku harus jujur dengan perasaanku. Pada awalnya, tepat pada tanggal Delapan Mei, aku terbangun dari sebuah mimpi dimana aku melihatnya ada di depanku mencoba meraih tanganku, mengajakku berlari, dan aku menyambut ajakan itu. Apa arti itu semua? Kemudian aku mencoba mengorek-ngorek isi hatiku sambil setengah mencoba membaringkan badan dan alangkah kagetnya ternyata aku masih menemukannya di dalam sana, bagaikan sebuah artefak yang tak tersentuh jaman dikurung dalam sebuah peti yang kubuang kuncinya ke samudra.

Itulah dia.

Hanya bermodalkan kejujuran hati ternyata semesta alam bagaikan mendukungku. Keajaiban terus datang silih berganti entah itu sesuatu ‘yang remeh’ atau ‘yang penting’ sekali pun. Jangankan aku, dia sendiri pun tak mengerti ‘kenapa bisa seperti ini?’. Kau tahu rasanya kebahagiaan bercampur kebingungan? Bingung kenapa bisa begitu mudahnya, seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan kepada orang tuanya dan mendapatkannya tanpa diomeli terlebih dahulu. Kini aku meyakini jika tidak semua hal dalam kehidupan ini bisa dimengerti oleh nalar dan akal sehat manusia. Sekuat apapun kita mencoba mencari jawaban. Kita hanyalah manusia biasa yang sudah seharusnya bersyukur karena nikmat Tuhan itu nyata.

Thanks for always being ‘there’, baby.

Si Brengsek

Image0046Suara rintik hujan mulai membasahi atap rumahku. Seperti biasa, aku lihat ibuku sedang termenung di ruang tamu yang ukurannya dua kali lebih besar dari kamarku sambil sesekali mengintip ke arah jendela.

“Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan? Ah mungkin ia sedang memikirkan ‘si brengsek’ itu.” gerutuku dalam hati.

‘Si brengsek’ itu adalah satu per dua alasan kenapa aku bisa terlahir di dunia. Dia adalah ayahku. Sesosok ‘manusia’ yang  memang lebih pantas disebut ‘hantu’. Ketika aku masih bocah ingusan, aku menganggapnya sebagai panutanku. Kau tahu, bahkan aku akan selalu menjawab ‘merokok dan minum kopi sachetan seperti ayah.’ jika ada seseorang bertanya ‘mau jadi apa kamu jika sudah besar nanti?’. Setelah beranjak dewasa, aku mulai mempertanyakan eksistensi dan kontribusinya dalam hidupku. Jawabannya? Tidak ada. Sosoknya ada, tapi dia tak pernah ada dalam hidupku. Hatiku hancur setelah mengetahui ternyata dia lah sumber utama masalah dalam keluargaku.

Rintikan hujan kini berubah menjadi gemuruh literan air dari langit. Aku kembali ke kamarku berbaring di kasurku sambil mencoba mengingat masa kecilku yang tidak mengenakan. Dengan menyebutnya ‘Si brengsek’, mungkin mereka yang tak mengerti akan melabeliku sebagai anak durhaka. Ah persetan dengan apa yang mereka pikirkan. Segera ku tutup lubang kupingku dengan earphone yang dibeli seharga 120 ribu rupiah, musik mellow memaksaku menutup mataku dan pikiranku kembali ke masa lalu.

“Aku bukan George.”

“Bukan juga Marty McFly.”

“Apalagi Crono.”

“Alexander? Tidak.”

Tapi sekarang aku disini, berada di masa lalu menyaksikan detil-detil masa kecilku di rumah seseorang yang berukuran sedang yang nantinya penuh sesak oleh cacian. Kemudian terdengar suara ketukan pintu, nampak seorang ibu dengan seorang bocah kecil. Sepertinya aku mengenali bocah itu, rompi berwarna broken white bermotif garis dengan patch Flintstone di bagian dada kirinya dan sebuah pistol mainan. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan dengan pemilik rumah namun tak selang berapa lama si ibu pergi tanpa membawa bocah itu.

“Ibu tinggal dulu ya. Baik-baik, jangan nakal, ikuti apa kata bibi.” pesannya kepada si bocah.

Aku ingat sekarang, si bocah itu adalah aku. Pesan ibuku itu selalu terngiang-ngiang dalam benakku hingga kini. Aku merasa seperti tidak diinginkan kala itu. Pertanyaan seperti “Kenapa ibu pulang? Sementara aku tetap tinggal disini?” selalu menyeruak dalam pikiran seorang bocah yang belum genap 6 tahun. Dalam keadaan bingung, aku mencoba menghibur diri dengan memainkan pistol mainanku yang mengeluarkan suara yang cukup mengganggu gendang telinga.

“Berisik!” sentak Bibiku sambil menepuk mainanku.

Kemudian bibiku mulai membicarakan sesuatu yang buruk tentang ayahku. Yang kala itu masih ku anggap sebagai pahlawanku. Masalahnya, kenapa harus aku yang jadi sasaran? Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. Bertemu dengan ayah yang ku rindukan pun jarang, tiba-tiba seseorang mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan di hadapanku. Apa yang sebenarnya yang terjadi?

“Apa yang sudah ayahku perbuat sehingga semua seakan membencinya?” ujarku dalam hati.

Hari demi hari terlewati, pikiranku pun teralihkan. Tanpa sadar aku tahu bahwa hidup dalam keluarga neraka ini merupakan takdir yang harus ku hadapi. Setidaknya, ada sosok nenekku yang baik dan peduli padaku. Ia yang telah berjasa mengajarkanku cara membaca dan berhitung. Ia bagaikan kipas angin kedamaian di dalam sebuah ruangan penuh dengki tanpa ventilasi.

“Ah aku sudah tidak tahan mengingat masa kecilku yang menyedihkan ini.” gerutuku dalam hati sambil berusaha kembali ke kasurku.

Aku pun bangun dari tidurku sambil menatap jam di dinding kamar. Tanpa sadar aku sudah terlelap selama satu setengah jam. Sesungguhnya aku tahu apa yang sudah terjadi, tidak bisa kembali. Aku yang sekarang adalah karena masa laluku. Tumbuh besar dengan caci maki dan aku melewati semuanya tanpa sosok ayah yang ku harap mampu menuntunku kala itu. Kini aku telah menjadi laki-laki ‘by nature’ yang pada hakikatnya aku tetap membutuhkannya. Ruangan di hatiku yang kosong tetap membutuhkan ayah.

“Brengsek, kemana saja kamu selama ini?”